sharmadie

Archive for Januari 2011

bentuk informasi nonverbal.
1. GRAFIK

Grafik adalah gambaran pasang surutnya suatu keadaan atau data yang ada dengan garis atau gambar. Grafik dibedakan menjadi tiga macam yaitu grafik batang, graik garis, grafik lingkaran.
a. Grafik batang adalah lukisan naik turunnya data berupa batang atau balok dan dipakai untuk menekan adanya perbedaan tingkatan atau nilai berupa aspek.

contoh grafik batang:


b. Grafik Garis adalah lukisan naik turunnya data berupa garis yang dihubungkan dari titik-titik data secara berurutan. Grafik ini digunakan untuk menggambarkan perkembangan atau perubahan dari waktu ke waktu.

contoh grafik garis:
c. Grafik lingkaran adalah gambaran naik turunnya data berupa lingkaran untuk menggambarkan presentase dari nilai total atau seluruhnya.

contoh grafik lingkaran:

2. DIAGRAM

Diagram adalah (gambaran, buram, sketsa) untuk memperlihatkan atau menerangkan sesuatu. Bentuk-bentuk diagram antara lain adalah diagram arus(bagan alur), diagram balok, diagram gambar, diagram garis, diagram lingkaran, diagram cabar, dan diagram pohon.

contoh diagram:

3. TABEL

Tabel adalah daftar yang berisi ikhtsar dan sejumlah data informasi biasanya berupa kata-kata- & bilangan yang tersusun bersistem urut kebawah dalam lajur dan deret tertentudengan garis pembatas sehingga dapat dengan mudah disimak.

contoh tabel:
4. BAGAN

Bagan adalah gambaran secara analisis atau terurai tentang proses yang terjadi di alam, teknologi, dan masyarakat manusia. Bagan digunakan untuk membantu memperjelas proses bekerja.

contoh bagan:
5. PETA

Peta adalah gambar atau lukisan pada kerts yang menunjukkan letak tanah, laut, sungai, gunung-gunung, dsg.

contoh peta:
6. DENAH

Denah adalah gambar yang menunjukkan letak kota, jalan, peta, atau gambar rancangan bangunan.

contoh denah:

7. MATRIKS

Matriks adalah tabel yang disusun dalam lajur dan jajaran sehingga butir-butir uraian yang diisikan dapat dibaca dari atas ke bawah dan dari kiri ke kanan.

contoh matriks:

PEMANGKASAN

Pemangkasan dilakukan berdasarkan tujuannya. Tujuan pemangkasan tergangtung umur dan fase pertumbuhan tanaman jeruk asam yang dibudidayakan. Adapun tujuan pemangkasan pada tanaman jeruk asam sebagai berikut:

1.      Mengatur pertumbuhan tanaman.

2.      Merangsang pertumbuhan bunga dan buah.

3.      Menghilangkan bagian tanaman yang sakit, rusak,atau mati.

4.      Meremajakan tanaman yang telah tua.

5.      Menjarangkan atau membuang cabang-cabang yang tidak dikehendaki atau tidak teratur tumbuhnya pada tanaman yang tajuknya terlalu rimbun.

6.      Memotong pucuk pohon agar tanaman tidak terlalu tinggi.

7.      Membuat sinar matahari bisa masuk sampai kebagian dalam tanaman sehingga bisa mengurangi kelembaban disekitar pohon.

I. Cara pemangkasan

Cara pemangkasan yang benar dapat membentuk tanaman bertajuk indah, sirkulasi udara dalam tajuk menjadi lancar dan sinar matahari bisa menembus sampai kedalam tajuk. Dengan demikian, lingkungan sekitar tanaman tidak lembab karena suasana lembab mengundang datangnya hama dan penyakit dan mempengarihi optimalisasi produksi karena tanaman dapat berbuah optimal jika ada sinar matahari yang cukup. Sebaliknya, pemangkasan yang salah akan merusak bentuk tanaman atau tajuk dan dapat menurunkan produksi buah. Oleh karena itu, cara pemangkasan perlu diperhatikan.

Pemangkasan sebaiknya dilakukan menjelang musim hujan, sekitar bulan Oktober, November dan Desember agar bagian yang dipangkas bisa cepat tumbuh lagi. Untuk memangkas dahan yang ukurannya, gunakan gergaji potong yang tajam agar pemotongannya mudah dilakukan. Sementara untuk memangkas cabang atau ranting yang ukurannya kecil dapat digunakan gunting pangkas. Adapun cara pemangkasan yang dilakukan para pekebun secara umum sebagai berikut:

1)        Ranting yang keluar dari dahan harus dipotong habis sampai di bagian pangkalnya.

2)        Sebaiknya pemangkasn berbentuk miring kedalam agar ketika hujan turun airnya tidak membasahi luka. Pasalnya, air hujan dapat dijadikan jalan untuk pertumbuhan jamur.

3)        Luka bekas pangkasan diolesi parafin atau pestisida seperti Dhitane M-45, Antracol agar tidak dijadikan pintu masuk serangan hama, missalkan semut, penggerek atau cendawan.

II. Pemankasan bentuk

Pemangkasan ini dapat dilakukan pada saat tanaman belum dipotkan atau masih dalam bibit atau saat dipindahkan ke pot tujuannya untuk mengurangi daun dan ranting agar penguapan pasca pemindahan ke dalam pot tidak terlalu besar. Umur bibit sekitar setahun dengan ketinggian antara 70-100 cm.hal yang perlu diperhatikan dalam pemangkasan ini adalah sebagai berikut:

a)      Lakukan pemangkasan menjelang musim hujan.

b)      Cabang dan ranting yang harus dipangkas adalah cabang air, cabangf yang tumbuh ke arah batang utama, cabang dan ranting yang tumbuh tumpang tindih, serta bagian tanaman yang mati, yang patah atau rusak.

c)      Pemangkasan menggunakan gunting, pisau atau alat sejenis yang tajam agar bagian yang dipangkas tidak patah atau terkelupas kulitnya.

d)      Cabang dan ranting atau bagian lain yan gdipangkas segera dibersihkan atau dibuang jauh-jauh dari lokasi.

Cara  pembentukan tajuk pada tanaman jeruk asam sebagai berikut:

1.      Pemangkasan dilakukan pada tanaman yang masih muda atau belum berproduksi (masih muda).

2.      Batang tanaman yang dipotong pada ketinggian 60 cm dari atas tanah.

3.      Hasil pemotongan akan tumbuh 3-4 tunas baru. Tunas baru tersebut dipelihara tiga tunas yang pertumbuhannya sempurna. Tunas yang tumbuh ini akan menjadi cabang yang disebut cabang primer.

4.      Setahun kemudian, tiga tunas dipotong lagi dan disisakan 20 cm diukur dari pangkal cabang. Hasil pemangkasan akan tumbuh beberapa tunas, tetapi yang dipelihara cukup tiga tunas saja uang pertumbuhannya sempurna. Cabang yang tumbuh dari cabang primer disebut cabang sekunder.

5.      Biasanya setekah cabang ini tumbuh, tidak dilakukan pemangkasan lagi karena buah jeruk dapat muncul dari cabang sekunder. Namun, pemangkasan dapat dilakukan untuk menumbuhkan cang tersier.

III. Pemangkasan pemeliharaan

Pemangkasan pemeliharaan atau pemangkasan ringan dilakukan sejak tanaman masih kecil atau bersamaan dengan pemangkasan bentuk. Bagian tanaman yang dipangkas adalah

  • Tunas air yang biasa tumbuh di batang utama.
  • Cabang yang tumbuh mengarah ke batang utama atau cabang balik.
  • Cabang yang tumbuh ke bawah.
  • Cabang yang kurang sehat.

IV. Pemangkasan produksi

Pemangkasan produksi pada tanaman jeruk asam adalah pemangkasan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas buah serta menjaga kesehatan tanaman sehingga diperoleh hasil yang maksimal. Pemangkasan ini dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

1) Pemangkasan akar

Tujuan pemangkasan akar adalah untuk menghambat pertuhbuhan vegetatif. Jika pertumbuhan vegetatif terlalu cepat dan subur, justru bunga dan buah tidak akan tumbuh. Dalam pemangkasan ini, bagian yang dipangkas tidak boleh lebih dari setengah bagian akar atau setengah dari bola tanah yang mmbungkus akar. Kalau terlalu banyak akar yang dipangkas maka pertumbuhan tanaman akan terganggu karena zat makanan tidak dapat diserap. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:

 

a)        Alat yang digunaka berupa benda tanjam dan kuat yang bisa langsung memutus akar.

b)        Pemangkasan akar dapat dilakukan saat repotting (penggantian edia tanam pada pot).

c)        Akar yang dipangkas adalah akar yang memanjang dan melingkar-lingkar / membelit-belit dan akar yang mati atau mati.

d)        Jika pemangkasan akar dilakukan tidak saat repotting, media tanam dibagian pinggiran pot ditusuk dengan benda tajam secara berkeliling dan merata sampai ke dasar pot sehingga akar tanaman akan putus.

2. Pemangkasan tajuk

Tajuk tanaman yang terlalu rimbun atau rapat mengakibatkan cabang atau ranting tidak mendapatkan sinat matahari yang cukup. Oleh karena itu tajuk perlu dipangkas.

V. Pemangkasan untuk mengatur pembungaan dan pembuahan

Pada kasus tanaman jeruk umumnya, belum terbukti adnya pengaruh pemangkasan terhadap peningkatan produksi tanaman. Namun, pada tanaman yang terlampau rimbun, pemangkasan bagian pucuk-pucuknya menjadikan tanaman terbuka sehingga berpengaruh terhadap pertumbuhan generatif tanaman. Penamngkasn untuk mengatur merangsang pembungaan adalah pemangkasan produksi. Pemangkasan ini dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

1.        Cabang yang terlalu rimbun dipangkas karena tidak produktif. Pemangkasan ini sebenarnya merupakan pemangkasan rutin.

2.         Selanjutnya, tanaman diberi pupuk P dengan takaran lebih tinggi dari takaran biasanya, yaitu 2 sendok makan.

3.        Tanaman disemprot ZPT dengan takaran yang dianjurkan. Bayak jenis dan merek ZPT yang beredar di pasaran. Jenis bahan aktif yang paling banyak digunakan dalam ZPT adalah  paclobutrazol. Cara kerja paclobutrazol adalah dengan menghambat keluarnya daun tanaman. Karena daunnya dihambat keluar, energi yang disimpan oleh tanaman akan keluar dalam bentuk bunga dan akhirnya berubah menjadi buah.

Cara penggunaan ZPT dengan menyemprotkannya ke seluruh bagian tanaman yang ada di permukaan tanah, terutama bagian daunnya. Khusus untuk paclobutrazol murni, pemakaian cukup 0,1 ml per liter air. Sementara itu, pemakaian ZPT dengan merek lain yang juga berbahan aktif paclobutrazol mengikuti petunjuk yang tertera pada kemasan. Salah satu merk dagang ZPT yang bisa digunakan adalah Cultar dan Goldstar. Jenis ZPT lain yang bisa digunakan adalah Atonik, Dekamon, Gibberelin,dan Hydrasil. Berbagai jenis ZPT itu bisa diperoleh di toko-toko pertanian.

Jika cuaca sedang cerah atau tidak sedang turun hujan, penyemprotan ZPT cukup dilakukan satu kali, dan bisa diulangi 2 minggu kemudian. Reaksi kerja ZPT sangat dipengaruhi oleh kesuburan tanaman. Jika tanaman cukup subur, 1 bulan setelah pembeian ZPT tanaman sudah bisa berbunga.

 

Sumber:

  • Budidaya Jeruk Asam di Kebun & di Pot karya Setiadi & Parimin
  • Sukses Membuahkan Jeruk Dalam Pot karya Bernand T. Wahyu Wiryanta

 

 

A.     PEMANGKASAN TANAMAN

Tidak semua ranting dan cabang tanaman jeruk lemon bisa menghasilkan buah. Dalam pertumbuhannya, tanaman lemon dalam pot sering mengeluarkan ranting dan beberapa cabang air yang hanya menghabiskan energi tanaman. Ranting  dan cabang yang tidak produktif ini biasanya tumbuh di tengah-tengah batang atau di batang bawah. Jika ranting atau cabang yang tumbuh ini berasal dari batang bawah yang letaknya di bawah sambungan (bibit lemon berasal dari okulasi atau sambung pucuk) akan mengalahkan pertumbuhan batang bagian atas sehingga buah yang keluar seperti yang dikehendaki.

Dalam merawat tanaman lemon dalam pot, ranting dan cabang seperti itu perlu dipangkas agar tida mangganggu pertumbuhan tanaman. Pemangkasan juga dapat memperindah bentuk percabangan tanaman dan energi untuk pembuahan tidak terbuang. Pemmangkasan harus rutin dikukan. Diusahakan tidak menunggu waktu lama sejak keluarnya ranting dan cabang yang tidak dikehendaki. Perawatan pemangkasan pertama kali dilakukan sejak bibit dipindah ke dalam pot penanaman. Pemangkasan dilakukan untuk mengurangi daun dan ranting agar penguapan pasca pemindahan bibit ke dalam pot tidak terlalu besar.

Cabang tanaman lemon juga bisa dibentuk lewat pemangkasan. Pembentukan cabang ini biasanya dilakukan 2 bulan sejak bibit ditanam di pot. Pemangkasan dilakukan dengan menjarangkan cabang yang berdekatan dan cabang yanag terlalu rendah, termasuk cabang air. Salah satu cabang yang letaknya tumpang tindih dan jaraknya kurang dari 5 cm sebaiknya dibuang. Selain mengurangi cabang yang tidak produktif, pemangkasan juga berguna untuk mencegah serangan hama penyakit yang gemar bersarang di tempat yang rimbun dan lembab, sseperti kutu putih, aphids, an beberapa jenis cendawan.

B.     MERANGSANG PEMBUAHAN DENGAN PUPUK

Untuk membuahkan tanaman lemon dalam pot diperlukan pupu yang kadar fosfornya (P) tinggi karena unsur inilah yang membantu pembentukan bunga dan buah serta pemasakan buah. Umumnya pupuk P didapat lewat pupuk tunggal TSP (Ca(HPO₄)₂) atau lewat pupuk majemuk NPK yang mengandung kadar P tinggi, seperti NPK 15:15:15 atau NPK 16-16-16+ TE (trace element), NPK 12-34-12, atau NPK 8-24-24.

Selain pupuk NPK yang diberikan lewat akar, pembuahan lemon dalam pot juga bisa dibantu dengan pupuk  NPK berkadar P tinggi yang diberikan lewat daun. Pupuk daun yang bisa digunakan antara lain Gandasil B, Gandapan, Foliar, Growmore, Hiponex, dan berbagai merek pupuk daun lain yang berkadar P tinggi. Kandungan N,P,K pupuk ini bisa dilihat di kemasan pupuk.

Pemupukan untuk merangsang pembuahan bisa dilakukan pada tanaman lemon dalam pot yang sudah berumur 1 tahun sejak dipindahkan ke dalam pot penanaman. Tanaman muda yang verasal dari perbanyakan dengan cangkok dan stek, kadang-kadang sudah bisa menghasilkan bunga pada unur 3-5 bulan sejak dipindahkan ke dalam pot. Namun, pada umur ini sebaiknya bunga dibuang saja, karena energi yang diperlukan tanaman untuk berbuah masih sangat terbatas. Apabila dipaksakan buah yang dihasilkan tidak akan memuaskan.

Pada umur 1 tahun sejak pindah ke dalam pot, tanaman lemon yang akan dibuahkan bisa diberi pupuk NPK berkadar P tinggi atau campuran antara urea, SP-36/TSP dan KCL. Tanaman berumur 1 tahun yang ditanam dalam pot ember  berukuran 10 liter bisa diberi pupuk NPK sebanyak 2 sendok makan (sdm) atau campuran urea, SP-36 1 sdm dan KCL 1 sdm. Untuk tanaman berumur 1 tahun yang ditanam di dalam pot drum, bisa diberi pupuk NPK berkadar P tinggi sebanyak 4 sdm atau campuran urea dan SP-36 2 sdm dan KCL 2 sdm. Agar penyerapan pupuk oleh tanaman lebih cepat, sebaiknya pupuk dilarutkan terlebih dahulu ke dalam 2 liter air.

Pemupukan dilakukan dengan cara membuat lubang melingkar mengikuti lingkaran pot sedalam ±5 cm. Setelah itu, pupuk dimasukkan dan ditimbun kembali dengan tanah kemudian media disiram agar pupuk larut dan meresap ke dalam tanah.

Selain lewat akar, pupuk berkadar P tinggi juga diberikan lewat daun. Interval pemberian 1 minggu sekali. Penyemprotan ini dilakukan terus sampai tanaman mengeluarkan bunganya. Dosis pupuk daun yang diberikan sebaiknya disesuaikan dengan petunjuk yang tertera pada kemasan pupuk. Setelah kuncup bunga keluar, penyemprotan dihentkan agar bunga tidak rontok.

C.     MERANGSANG PEMBUAHAN DENGAN ZPT

Alternatif lain untuk merangsang pembuahan tanaman lemon dalam pot adalah dengan pemberian zat pengatur tumbuh (ZPT). Jenis ZPT banyak ragamnya, ada pengatur tumbuh akar, pengatur tunbuh daun,ada juga pengatur tumbuh bunga. Zat pengatur tumbuh ini biasanya digunakan untuk membuahkan tanaman lemon dalam pot serentak. Para pedagang lemon dalam pot sering memakainya untuk mengatur jdwal tanaman berbuah. Hal ini biasa dilakukan untuk memenuhi pesanan para hobiis tanaman pad event tertentu.

Syarat tanaman yang akan dirangsang pembungaan dengan ZPT adalah harus cukup umur atau siap berbuah, sehat, subur dan unsur haranya terenuhi. Perlakuan yang tidak sesuai dengan syarat tersebut justru menyebabkan tanaman mati, baik sebelum atau sesudah tanaman bebuah.

Bayak jenis dan merek ZPT yang beredar di pasaran. Jenis bahan aktif yang paling banyak digunakan dalam ZPT adalah  paclobutrazol. Cara kerja paclobutrazol adalah dengan menghambat keluarnya daun tanaman. Karena daunnya dihambat keluar, energi yang disimpan oleh tanaman akan keluar dalam bentuk bunga dan akhirnya berubah menjadi buah.

Cara penggunaan ZPT dengan menyemprotkannya ke seluruh bagian tanaman yang ada di permukaan tanah, terutama bagian daunnya. Khusus untuk paclobutrazol murni, pemakaian cukup 0,1 ml per liter air. Sementara itu, pemakaian ZPT dengan merek lain yang juga berbahan aktif paclobutrazol mengikuti petunjuk yang tertera pada kemasan. Salah satu merk dagang ZPT yang bisa digunakan adalah Cultar dan Goldstar. Jenis ZPT lain yang bisa digunakan adalah Atonik, Dekamon, Gibberelin,dan Hydrasil. Berbagai jenis ZPT itu bisa diperoleh di toko-toko pertanian.

Jika cuaca sedang cerah atau tidak sedang turun hujan, penyemprotan ZPT cukup dilakukan satu kali, dan bisa diulangi 2 minggu kemudian. Reaksi kerja ZPT sangat dipengaruhi oleh kesuburan tanaman. Jika tanaman cukup subur, 1 bulan setelah pembeian ZPT tanaman sudah bisa berbunga.

 

D.     MERANGSANG PEMBUAHAN DENGAN STRES AIR

Selain menggunakan pupuk berkadar P tinggi, bunga dan buah lamon dalam pot dapat dirangsang dengan stres air. Inilah salah satu keuntungan menanam lemon dalam pot, yakni bisa dengan mudah merekayasa pengturan air untuk merangsang pembuahanya. Rekayasa pemberian air ini sulit dilakukan pada tanaman yang ditanam di lahan. Perlakuan stres air nin umumnya dilakukan jika pemakaian pupuk untuk merangsang pembungaan tidak berhasil dengan baik.

Tanaman lemon dalam pot yang akan dirangsang buahnya dengan stres air sebaiknya benar-benar dalam kondisi sehat dan subur. Pasalnya, setelah mengalami stres air, tanaman tersebut harus mempunyai unsur hara dan energi untuk membentuk bunga dan buah. Jika tanaman yang akan diberi perlakuan stres air tidak sehat dan subur, ada kemungkinan bunga dan buah masih bisa keluar, tetapi mudah rontok. Selain sehat dan subur, tanaman yang akan diberi stres air, buahnya minimum sudah dipanen semua 1 bulan sebelum atau sudah beristirahat selama 1 bulan.

Tahap perlakuan stres air untuk merangsang keluarnya bunga dan buah sebagai berikut:

1.      Dua minggu sebelum perlakuan stres air, pupuk tanaman lemon menggunakan NPK. Gunakan pupuk NPK berkadar P tinggi.

2.      Dua minggu setelah pemupukan letakkan tanaman di tempat terbuka yang terkena sinar matahari langsung setiap hari.

3.      Biarkan tanaman tersebut terkena sinar matahari tanpa disiram air sedikitpun. Perlakuan ini berlangsung selama ± 1-2 minggu atau sampai tanaman hampir layu dan mengalami stres, tetapi tidak sampai mati.

4.      Setelah stres karena kekurangan air, tanaman diairi terus-menerus. Jika cuaca sedang panas, tanaman disiram 3x sehari. Penyiraman dilakukan terus sekitar dua minggu. Setelah itu dilakukan penyiraman secara normal, sehari 1x atau tergantung dengan kondisi kelembaban media tanamnya.

5.      2-3 minggu setelah perlakuan stres air, biasanya tanaman lemon akan mengeluarkan tunau-tunas daun baru yang dibarengi dengan munculnya kuncup-kuncuo bunga. Setelah bunga muncul,media tanam harus dijaga supaya tidak terlalu basah atau terlalu kering. Media yang terlalu basah atau kering bisa menyebabkan bunga rontok.

E.      MERANGSANG PEMBUAHAN DENGAN MELUKAI BATANG TANAMAN

Melukai batang tanaman merupakan cara lama untuk membuahkan tanaman. Cara ini sampai sekarang masih dipraktikkan. Meskipun berhasil memaksa tanaman untuk berbuah, tetapi cara ini sebaiknya dijadikan sebagai pilihan terakhir.

Ada banyak cara pemaksaan berbuah dengan melukai batang tanaman. Cara yang umum dilakukan adalah dengan mengikat erat batang tanaman menggunakan kawat sampai kulit terluka menembus batang kayu. Cara lainnya adalah dengan mengelupas kulit tanaman sampai terlihat kambiumnya.

Cara pelukaan ini tanpa disengaja menyebabkan proses pengiriman karbohidrat dari tanaman ke akar terhambat sehingga terjadi penimbunan karbohidrat di batang, ranting dan daun. Dengan penimbunan ini maka akan mempercepat munculnya bunga dan buah.

Kekurangan dari membuahkan tanaman dengan cara melukai batang adalah terjadinya luka pada tanaman. Luka yang ditimbulkan  ini dikhawatirkan bisa terinfeksi oleh penyakit, seperti jamur, bakteri dan virus CVPD

 

 

Pemangkasan

Apabila tanaman di biarkan tumbuh normal, tidak dipangkas, tinggi tanaman teh bisa mencapai belasan meter. Tinggi tanaman yang demikian tentu akan menyulitkan pemeliharaan dan pemetikan pucuk, karena itu perlu dilakukan pemangkasaan. Selain itu pemangkasan juga bertujuan untuk merangsang pertumbuhan tunas baru dan memperluas bidang pemetikan. Saat melakukan pemeliharaan tersebut tidak hanya menghilangkan cabang yang rusak atau tidak sehat, tetapi juga menghilangkan lumut kerak dan tanaman epifit lainnya.

1. Jenis pemangkasan

Pemangkasan yang dilakukan ada beberapa jenis, yaitu sebagai berikut:

a. Pemangkasan indukan

Pemangkasan indukan merupakan pemangkasan . Pemangkasan ini dikerjakan untuk tanaman semani atau stump, bibit yang berasal dari bagian bawah batang tanaman, yang tumbuh lurus tanpa membentuk cabang. Pelaksanaannya dilakukan apabila ukuran garis tengah batang kira-kira 2 ½ cm. Akan tetapi, pada tanaman yang kurang subur, tanaman dibiarkan menjadi besar terlebih dahulu. Tinggi tanaman yang tersisa sekitar 12-15 cm.

b. Pemangkasan bentuk

Tujuan melakukan pemangkasan sama seprti tanaman indukan. Cabang tanaman dipotong setinggi 30-40 cm dari atas tanah. Pemangkasan bentuk dilakukan 1,5-2,5 tahun setelah pemangkasan indukan. Waktu ini tidaklah sama untuk setiap daerah/ perkebunan, tergantung dari pertumbuhan tanaman tehnya.

c. Pemangkasan keprasan

Pemangkasan ini bertujuan untuk mendapatkan cabang baru yang diharapkan akan menghasilkan tunas. Oleh karena itu tujuannya sama dengan pemangkasan produksi, maka ada yang menggolongkan dalam pemangkasan produsi. Pemangkasan keprasan juga disebut pengkasan meja (cut across) karena hasilnya datar seperti meja. Pemangkasan dilakukan 2,5-3 tahun setelah pemangkasan bentuk. Jarak antara dua pemangkasan keprasan sekitar 1,5 meter. Bagian yang dipangkas sekitar 5 cm dari bekas pemangkasan sebelumnya. Dengan demikian tinggi tanaman dapat diatur sekitar 1 meter saja.

d. Pemangkasan produksi

Pemangkasan produksi ini terdiri atas beberapa tahap lagi, yaitu sebagai berikut.

A.  Pemangkasan produksi kesatu dilakukan pada saat tinggi tanaman 45 cm atau tanaman berumur 8 tahun.

B.    Pemangkasan produksi kedua dilakukan pada saat tinggi tanaman 50 cm atau tanaman berumur 11 tahun.

C.  Pemangkasan produksi ketiga dilakukan saat tinggi tanaman 55 cm atau tanaman berumur 14 tahun.

Tahap D, E, F, G, H, I dan J tinggal mengikuti patokan di atas.

D.  Pemangkasan produksi kesepuluh dilakukan saat tinggi tanaman 90 cm atau tanaman berumur 35 tahun.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

e. Pemangkasan dalam

Pemangkasan dalam merupakan pemangkasan yang dilakukan antara bekas 2 pasangan bentuk, misalnya pangkasan bentuk I dan II. Waktu pelaksanaan bentuk adalah bulan Januari-Maret dengan jangka waktu 13-14 tahun sekali. Setelah melakukan pemangkasan produksi tahap K di atas bisa juga melakukan pemangkasan dalam. Berarti pangkasan dalam (pada gambar tahap L) dilakukan saat tanaman berumur sama dengan tahap K, yaitu 35 tahun. Tinggi tanaman setelah pemangkasan ini hanya 40 cm. Pemangkasan ini tidak harus dilakukan, sehingga ada yang tidak melakukannya.

Dalam perawatan tanaman teh juga dikenal pangkasan bersih atau clean prunning, yaitu pengkasan di seluruh bagian tanaman teh tenasuk cabang atau ranting yang mati, ranting kecil (diameter kurang dari 1 cm). Pangkasan bersih biasa dilakukan di perkebunan teh setiap 3-4 tahu sekali. Ada juga perkebunan yang melakukan pangkasan bersih secaera berselang seling dengan pangkasan meja. Manfaat pangkasan bersih adalah tanaman teh dapat dibersihkan dari pertumbuhan cabang yang tidak diperlukan. Walaupun demikian ada juga bahayanya, yaitu mengurangi daya asimilasi tanaman secara drastis terutuma tanaman yang pendek. Akibatnya, cabang-cabang bisa mati. Oleh karena itu, tanaman teh di daerah dataran rendah tidak dilkukan pangkasan bersih bila tadak ada tanaman pelindungnya.

2. Alat pemangkasan

Alat yang digunakan  untuk memangkas adalah gergaji pangkas dengan panjang 40-60 cm dan lebar 7-8 cm yang semakin meruncing ke ujung. Ujung yang runcing untuk memudahkan alat tersebut dimasukkan ke sels-sels batang atau cabang yang hanedak dipangkas. Tangkai gergaji biasanya dibuat melengkung. Untuk mempercepat pekerjaan dapat digunakan gergaji mesin.

Selain gergaji pangkas alat yang juga digunakan adalah gaet, bentuknya melengkung hampir serti setengah lingkaran. Dalamnya cekungan (lengkungan) tersebut tergangtung dari macam pemangkasannya. Misalnya, pemangkasan dalam menggunakan gaet berbentuk lebih cekung daripada yang digunakan untuk pemangkasan keprasan. Selain itu, besar dan berat gaet juga ada beberapa macam.

Golok, pisau, gunting pangkas, atau parang yang tajam bisa juga digunakan asalkan rapi dan tidak melukai batang. Alat pangkas tersebut digunakan untuk batang atau cabang yang berukuran kecil.

Untuk membantu kelancaran pekerjaajn pemangkasan, digunakan alat bantu seprti tongkat ukuran dan batu asah (batu gosok) atau kikir. Tongkat ukuran terbuat dari kayu atau bambu yang ukuranya sesuai dengan ketinggian pangkas yang diinginkan. Kikir diperlukan untuk mempertajam permukaan potong grgaji pangkas. Sedangkan batu gosok digunakan untuk mengasah atua menggosok gaet. Ketajaman alat diperlukan agar tidak banyak melukai batang atau ranting.

3. Cara pemangkasan

Tongkat ukur diletakkan vertikal di tengah pohon. Lalu 2 atau 3 cabang di potong sesuai ketinggian tongkat ukur. Cabang lainnya dipangkas rata pedoman pada cabang yang telah diukur tadi. Bidang pangkasan harus dibuat rata dan sejajar dengan kemiringan tanah.

Sewaktu melakukan pemangkasan bidang permukaan batang atau cabang selaludibuat sudut lancip dengan sumbu cabang yang dipotong. Sudut yang sekitar 45° atau lebih sedikit. Akan tetapi, jangan kurang dari 45° karena ujung  cabang yang tipis dapat mengering dan mati.

Bidang pemangkasan pada batang atau cabang yang berukuran besar perlu ditutup dengan bahan tertentu. Ini untuk menjaga serangan hama penyakit serta untuk kelangsungan pertumbuhan atau cabang. Penutupan luka dilakukan setelah pangkasan dibiarkan beberapa hari sampai luka mengering. Jenis bahan penutup antara lain meni, ter yang bersih (tidak mempunyai kandungan fenol bebas), atau aspal jenis Wonokromo 20/30 BPM. Apabila luka pangkasan sedemikian besarnya bisa juga digunakan adukan semen dan pasir untuk menutupnya.

Luka pada bidang pangkasan yang kecil boleh saja tidak ditutup. Namun, pada keadaan yang rawan hama penyakit dan untuk menghindari penularan bibit penyakit dari tanaman lain, hal ini perlu dilaksanakan. Bahan yang dianjurkan untuk dipakai adalah aspal jenis Wonokromo 20/30 BPM, malam dan socony produk 2295 A.

4. Waktu pemangkasan

Hal yang perlu diperhatikan adalah waktu pemangkasan. Waktu yang paling tepat adalah dipenghujung musim hujan. Pada saat itu hujan masih ada, tetapi frekuensinya tidak begitu besar dan curah hujannya sasuai dengan yang dibutuhkan tanaman. Air hujan dibutuhkan tanaman untuk menumbuhkan tuans-tunas baru.

Pemangkasan di musim kemarau atau di awal musim penghujan kurang baik, terutama untuk tanaman teh di dataran rendah. Kekeringan yang terjadi di musim kemarau bisa fatal pengaruhnya terhadap tanaman teh yang baru dipangkas. Dan, awal musim penghujan banyak serangan penyakit cacar.

SUMBER:

  • BUKU DASASR-DASAR BUDIDAYA TEH karya Muhammad A. Ghani (Penebar Swadaya).
  • BUKU TEH PEMBUDIDAYAAN DAN PENGOLAHAN (Penebar Swadaya).

1. pemberian zpt

Pemberian ZPT dapat dilakukan pad saat perbanyakan tanaman secara vegetatif dan merangsang pembuahan. Pada perbanyakan tanaman, yaitu

1.      Setek

Syarat penyetekan seperti tanaman yang lain dan setelah selesai disiapkan celupkan atau rendam pangkal setek dalam larutan hormon tumbuh akar, seperti Rootone F, asan indol asetat (IAA), atau asam indol butirat (IBA) 33dengan konsentrasi 100 ppm-500 ppm selama minimal 15 menit.

2.      Okulasi atau chip budding

Pemberian ZPT ini dilakukan pada saat penyiapan benih untuk batang bawah. Caranya sebelum benih anggur ditaman biji angur direndam pad air hangat yang sudah dicampur ZPT seperti Atonik sebanyak 1000 ppm selama 1 jam. Tujuan untuk memecah masa dormansi.

3.      Cangkok

Untuk merangsang pertumbuhan akar pada cangkokan anggur, perlu diolesi ZPT dibagian luka bekas sayatan. ZPT yang digunakan adalah Rootone F.

Cara mendapatkan buah anggur tanpa biji yang besar dan dompolan buah panjang dapat disiasati dengan memberikan hormon pengatur tumbuh (ZPT) asam Giberelat dalam bentuk larutan promalin. Promalin adalah zat pengatur tumbuh berbahan aktif, yaitu campuran dari asam Giberelat dengan benzyl adenin (sitokinin). Dosis yang paling baik adalah 1000 ppm. Cara penggunaannya, primordia bunga anggur (calon bunga) dicelupkan selama 5 detik ke dalam larutan promalin pada pagi atau sore hari. Tiga bulan setelah pencelupan bunga, buah yang terbentuk menjelang tua (masak).

2. PEMBUATAN RAMBATAN

Tanaman anggur bersifat merambat atau menjalar, sehingga untuk mengatur pertumbuhan dan pembuahannya dibutuhkan rambatan. Model rambatan tanaman anggur dapat dibedakan atas tiga model sebagai berikut:

a. Model Para-para

Konstruksi tempat rambatan model para-para dibuat dari bahan kayu, besi, beton/batu bata dan bambu. Bahan-bahan untuk pembuatan para-para harus kuat, tahan lama dan cukup ringan.

Tiang para-para dipasang sesuai dengan jarak tanaman anggur tersebut dan tinggi yang paling ideal adalah 2 m sehingga pekerja dapat leluasa dibawah para-para. Jika para-para terlalu rendah maka bagian bawah tanaman kurang mendapatkan sinar matahari,sehingga menjadi lembab. Kelembaban yang tinggi memudahkan timbulnya serangan penyakit dan bila terlulu tinggi menyulitkann pemeliharaan.

b. Model Pagar atau kniffin

Tempat perambatan tanaman anggur dibuat berbentuk pagar. Tiang pagar tebuat dari kayu ataupun beton cor dan antar tiang tersebut dihubungkan dengan kawat yang dipasang mendatar sebanyak 2-3 jajar.

Tempat perambaatan model pagar mempunyai kelebihan antara lainsinar matahati dapat langsung menyinari tanaman anggur, keadaan sekitarnya tidak lembab, dan mudah dalam kegiatan penyemprotan. Kelemahannya buah mudah lecet tergores kawat pagar.

c. Model perdu

Tempat perambatan model perdu berupa pohon atau kayu biasa, kemudian di bagian atasnya dipasang tempat penyangga sepanjang 2m dan  lebarnya 2m.

Pemasangan tempat rambatan sebaiknya dilakukan sebelum tanaman anggur dipangkas dan dibentuk. Seusai pemasangan tempat rambatan dapat segera dilakukan pemangkasan dan pembentukan pohon.

3. PEMANGKASAN DAN PEMBENTUKAN POHON

Pemangkasan pada tanaman anggur merupakan satu-kesatuan pekerjaan yang tidak terpisahkan dengan pembentukan pohon. Pemangkasan dan pembentukan pohon harus dilakukan supaya tanaman dapat berproduksi dengan baik.

Pemangkasan adalah tindakan pemotongan batang dan cabang tanaman dengan maksud untuk mendorong (merangsang) tunas cabang-cabang baru, sehingga akhirnya dihasilkan bunga dan buah.

Tujuan pemangkasan anggur adalah sebagai berikut:

a.         Memperoleh batang pokok tanaman anggur yang kekar dan kuat, sehingga bentuk dasar (frame) tamanan bagus.

b.         Mendapatkan cabang-cabang yang tumbuhnya kuat.

c.         Memperpendek pohon (dwarfing) agar mudah dalam pemeliharaan dan pemungutan hasil.

d.         Memperoleh tanaman anggur yang cepat berbunga dan bertandan banyak, sehingga produksi tinggi.

Pembentukan pohon merupakan pekerjaan mengatur percabangan yang telah ada, sehingga tanaman tersebut bentuknya bagus. Disamping itu, pembentukan pohon berpengaruh baik padasirkulasi udara disekitar tujuk (kanopi) tanaman hingga cukup mendapat sinar matahari. Tujuan pembentukan pohon adalah untuk mendapatkan tanaman yang berbuah lebat.

Tata cara pemangkasan dan pembentukan pohon  tanaman anggur adalah sebagai berikut:

a. Pangkasan pertama

Pada tahun pertama, tanaman anggur yang tumbuhnya melebihi para-para (umur 9-12 tahun) segera dipangkas ujung batangnya, disisakan setinggi para-para. Daun-daunnya yang tertinggal dipangkas(dibuang). Tujuan pemangkasan perdana (pertama) adalah untuk menumbuhkan tunas atau cabang primer yang sehat dan menghasilkan bentuk dasar (frame) tanaman yang kuat.

b. Pangkasan kedua

Dua minggu setelah pangkasan pertama, biasanya tunas-tunas atau cabang primer tumbuh sehat. Cabang yang paling atas ditarik dan diluruskan menjalar ke depan para-para. Sementara tunas-tunas atau cabang lain dibiarkan menjalar ke kanan dan kiri para-para seperti bentuk sirip.

Setiap cabang yang yang tumbuhnya memanjang ± 1m segera dipangkas pada bagian ujungnya. Tujuan pemangksan kedua adalah menumbuhkan tunas-tunas atau cabang sekunder.

c. Pangkasan ketiga

Cabang-cabang sekunder yang panjangnya mencapai ± 1m, ditarik dan diluruskan lagi seperti pada pangkasan kedua. Tiap ujung cabang sekunder segera dipangkas. Tujuan pangkasan ketiga adalah untuk menumbuhkan tunas-tunas atau cabang tersier.

Cabang tersier disebut cabang bunga atau buah. Setelah diperoleh cabang tersier, pekerjaan pembentukan pohon dihentikan, tinggal menunggu pemangkasan untuk pembungaan dan pembuahan.

Hal yang perlu diperhatikandalam pemangkasan dan pembentukan pohon tanaman anggur adalah

1.         mengetahui ciri visual mata tunas

Tanaman anggur mempunyai tunas vegetatif, generatif dan tunas campuran. Tunas vegetatif bersifat menghasilkan cabang atau ranting tersier yang biasanya tidak berbuah. Tunas generatif berfungsi menghasilkan cabang atau ranting yang sanggup berbuah. Sedangkan tunas campuran bersifat menghasilkansebagian cabang atau ranting yang dapat berbuah dan sebagian lagi tidak akan berbuah.

Mata tunas vegetatif ditandai dengan bentuknya yang runcing. Apabila pemangkasan dilakukan diatas mata runcing akan menghasilkan tunas-tunas baru yang bersifat vegetatif (tidak berbuah). Sementara mata tunas generatif ditandai dengan bentuk tumpul. Apabila pemangkasan dilakukan diatas mata tumpul akan dihasilkan tunas-tunas bakal bunga dan buah.

Agar diperoleh tanaman anggur yang mempunyai tunas vegetatif dan generatif kekar, sehat dan subur harus diusahakan agar tanaman tetap prima. Untuk itu harus dilakukan pengairan, pemupukan, pengendalian opt yang sebaik-baiknya.

2.         Waktu pemangkasan dan pembentukan pohon

Waktu yang paling tepat adalah anggur berumur 1 tahun. Tanaman yang dipangkas dan dibentuk sebelum waktunya (kurang dari 1 tahun), produksinya tidak akan memuaskan.

3.         Cara pemangkasan

Cara pemagkasan tanaman anggur dibedakan menjadi 3 macam, yaitu Teknik pangkas pendek, artinya banyak mata pada cabang yang dipangkas, disisaka 1-2 mata tunas. Pangkas sedang, artinya banyak mata tunas yang dipangkas, disisakan3-6 mata tunas. Sedangkan pangkas panjang adalah banyak mata pada cabang yang dipangkas, disisakan 7 mata atau lebih.

4.         Ciri-ciri siap pangkas

Cabang yang siap dipangkas ditandai dengan ujung tunasnya mudah dipatahkan, dan apabila dipangkas segera meneteskan air. Pemangkasan harus selalu dilakukan pada bagian cabang yang telah berwarna cokelat. Apabila cabang yang dipatahkan (dipangkas) tidak meneteskan air, maka pemberian air harus diulangi lagi sebanyak mungkin selama 2-3 hari sebelum pemangkasan ulang.

4. Pemangksan untuk pembungaan atau pembuahan

Waktu pamangksan untuk pembuahan dilakukan 2 tahap setiap tahun, yaitu bulan Maret-April, dan bulan Juli-Agustus. Pemangkasam pada awal musim kemarau (Maret-April) biasanya tidak memberikan hasil yang memuaskan, karena cabang pangkasan hanya menghasilkan sedikit bunga. Pemangkasan pada musim kemarau (Julu-Agustus) umumnya memberikan hasil yang tinggi dan memuaskan.

Cabang buah hanya terjadi pada cabang tersier. Oleh karena itu, pemangkasan pembuahan hanya dianjurkan setelah tanaman berumur 1 tahun. Cabang-cabanag yang tumbuh subur dippangkas dengan meninggalkan 1-3 mata tunas. Cabang atau ranting sisa pemangkasan dibentangkan dan diatur merata ke seluruh permukaan para-para, lalu diikat ke kanan dan ke kiri dengan tali rafia.

Seusai pemangkasan pembungaan, maka 10-14 hari berikutnya akan tumbuh tunas-tunas baru, dan 7 hari kemudian muncul malai bunga. Tiap tunas sebaiknya dipelihara 3 malai bunga, dan selebihnya dibuang (dipangkas). Pemeliharaan 3 malai bunga dimahsudkan agar nantinya buah anggur yang dihasilkan bermutu tinggi. Tunas-tuans baru yang tumbuh di atas bunga sebaiknya dipangkas karena akan mengganggu pembuahan. Pemangkasan tunas ini berlangsung sampai bakal buah terbentuk (muncul).

5. Penjarangan dan perawatan buah

Penjarangan buah dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas buah anggur, agar butirannya menjadi besar dan tingkat kemasakannya seragam atau serentak.

Penjarangan buah dilakukan pada waktu ukuran buah masih sebesar kelungsu (biji asam). Hasil penjarangan buah (krenten) dapat digunakan untuk pembuatan kismis. Penjarangan buah dilakukan dengan mengambil butir-butir buah yang letaknya berhimpitan, abnormal dan rusak (busuk). Alat bantu yang digunakan adalah gunting kecil berujung runcing  yang bersih (steril).

Perawatan buah dilakukan untuk mengatur tandan atau dompolan buah agar menggantung bebas dan untuk mengendalikan organisme pengganggu buah. Apabila periode pembuahan berlangsung di musim hujan, perlu disiasati dengan cara sebagai berikut:

a.         Memasang atap plastik putih (trasparan) pada para-para. Cara ini dapat mengamankan dan meningkatkan produksi sebesar 88%.

b.         Membungkus bakal buah anggur dengan kontong plastik atau kertas semen. Cara ini dapat meningkatkan produksi sebesar 123%, rasa buah menjadi manis, buah menjadi tidak busuk, dan tidak terserang penyakit.

6. peremajaan metode top working

Apabila tanaman anggur sudah tidak produktif atau akan diganti dengan varietas baru, tidak perlu dilakukan pembongkaran (eradikasi) tanaman. Teknik yang digunakan untuk mengganti tanaman lama dengan varietas baru tanpa membongkar semua tanaman adalah dengan teknik top working atau teknik sambung. Tata cara peremajaan dengan metode top working adalah sebagai berikut :

1.         Tentukan tanaman anggur yang akan diremajakan.

2.         Permukaan tanah. Bekas pangkasan harus rata, kemudian diolesi dengan parafin.

3.         Biarkan tumbuh tunas-tunas baru pada batang bawah yang dipangkas kemudian pelihara tunas terpilih selama 8-10 minggu hingga berukuran sebesar pensil.

4.         Siapkan cabang (pucuk) entres dari pohon induk varietas unggul yang diingginkan.

5.          Sambungkan entres dengan batang bawah (tunas baru). Metode penyambungan dapat memilih metode sambung celah atau sambung pucuk.  Teknik penyambungan sampai dengan pemeliharaan sambungan pada prinsipnya sama dengan praktek pembibitan secara konvensional.

Tingkat keberhasilan peremajaan dengan metode top working ditentukan oleh kesesuaian antara batang atas dengan batang bawah, keadaan lingkungan (cuaca), dan metode penyambungan. Hasil penelitian Baswarsiati dan kawan-kawan menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan teknik sambung celah di musim kemarau mencapi 60% dan musim hujan 75-80%. Sedangkan dengan okulasi mata tempel pada musim kemarau tingkat keberhasiklan sambungan mencapai 40%, dan musim hujan 65-80%.

Keuntungan peremajaan tanaman anggur dengan metode top working adalah sebagai berikut:

a.         Mempermuda tanaman yang sudah tua atau tidak produktif.

b.         Meningkatkan mutu tanaman atau varietas anggur yang telah ditanam.

c.         Memperpendek masa remaja (juvenilitas) tanaman yang diremajakan, sehaingga cepat berbuah.

d.         Mendapatkan varietas baru sesuai dengan yang diinginkan.

e.         Mendapat varietas anggur dalam satu hamparan kebun.

Sumber :

  • BUKU ANGGUR BUDIDAYA DAN PEPENANGANAN PASCA PANEN karya Ir. H. Rahmat Rukmana
  • BUKU MEMBUAHKAN ANGGUR DI DALAM POT DAN PEKARANGAN karya Bernand T. Wahyu Wiryanta

BUDIDAYA KACANG PANJANG

SYARAT PERTUMBUHAN
Tanaman tumbuh baik pada tanah Latosol / lempung berpasir, subur, gembur, banyak mengandung bahan organik dan drainasenya baik, pH sekitar 5,5-6,5. Suhu antara 20-30 derajat Celcius, iklimnya kering, curah hujan antara 600-1.500 mm/tahun dan ketinggian optimum kurang dari 800 m dpl.

PEMBIBITAN
– Benih kacang panjang yang baik dan bermutu adalah sebagai berikut: penampilan bernas/kusam, daya kecambah tinggi di atas 85%, tidak rusak/cacat, tidak mengandung wabah hama dan penyakit. Keperluan benih untuk 1 hektar antara 15-20 kg.
– Benih tidak usah disemaikan secara khusus, tetapi benih langsung tanam pada lubang tanam yang sudah disiapkan.

PENGOLAHAN MEDIA TANAM
– Bersihkan lahan dari rumput-rumput liar, dicangkul/dibajak hingga tanah menjadi gembur.
– Buatlah bedengan dengan ukuran lebar 60-80 cm, jarak antara bedengan 30 cm, tinggi 30 cm, panjang tergantung lahan. Untuk sistem guludan lebar dasar 30-40 cm dan lebar atas 30-50 cm, tinggi 30 cm dan jarak antara guludan 30-40 cm
– Lakukan pengapuran jika pH tanah lebih rendah dari 5,5 dengan dolomit sebanyak 1-2 ton/ha dan campurkan secara merata dengan tanah pada kedalaman 30 cm
– Siramkan pupuk POC NASA yang telah dicampur air secara merata di atas bedengan dengan dosis ± 1 botol (500 cc) POC NASA diencerkan dengan air secukupnya untuk setiap 1000 m2(10 botol/ha). Hasil akan lebih bagus jika menggunakan SUPER NASA, cara penggunaannya sebagai berikut:
alternatif 1 : 1 botol Super Nasa diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.
alternatif 2 : setiap 1 gembor vol 10 lt diberi 1 peres sendok makan Super Nasa untuk menyiram 10 meter bedengan.

TEKNIK PENANAMAN
– Jarak lubang tanam untuk tipe merambat adalah 20 x 50 cm, 40 x 60 cm, 30 x 40 cm. Dan jarak tanam tipe tegak adalah 20 x 40 cm dan 30 x 60 cm.
– Waktu tanam yang baik adalah awal musim kemarau/awal musim penghujan, tetapi dapat saja sepanjang musim asal air tanahnya memadai
– Benih direndam POC NASA dosis 2 tutup/liter selama 0,5 jam lalu tiriskan
– Benih dimasukkan ke dalam lubang tanam sebanyak 2 biji, tutup dengan tanah tipis/dengan abu dapur.

PENYULAMAN
Benih kacang panjang akan tumbuh 3-5 hari setelah tanam. Benih yang tidak tumbuh segera disulam.

PENYIANGAN
Penyiangan dilakukan pada waktu tanaman berumur 2-3 minggu setelah tanam, tergantung pertumbuhan rumput di kebun. Penyiangan dengan cara mencabut rumput liar/membersihkan dengan alat kored.

PEMANGKASAN / PEREMPELAN
Kacang panjang yang terlalu rimbun perlu diadakan pemangkasan daun maupun ujung batang. Tanaman yang terlalu rimbun dapat menghambat pertumbuhan bunga.

PEMUPUKAN
Dosis pupuk makro sebagai berikut:

Waktu Dosis Pupuk Makro (per ha)
Urea (kg) SP-36 (kg) KCl (kg)
Dasar 50 75 25
Umur 45 hari 50 25 75
TOTAL 100 100 100

Catatan : Atau sesuai rekomendasi setempat.
Pupuk diberikan di dalam lubang pupuk yang terletak di kiri-kanan lubang tanam. Jumlah pupuk yang diberikan untuk satu tanaman tergantung dari jarak tanam
POC NASA diberikan 1-2 minggu sekali semenjak tanaman berumur 2 minggu, dengan cara disemprotkan (4-8 tutup POC NASA/tangki). Kebutuhan total POC NASA untuk pemeliharaan 1-2 botol per 1000 M2 (10-20 botol/ha). Akan lebih bagus jika penggunaan POC NASA ditambahkan HORMONIK (3-4 tutup POC NASA + 1 tutup Hormonik/tangki). Pada saat tanaman berbunga tidak dilakukan penyemprotan, karena dapat mengganggu penyerbukan (dapat disiramkan dengan dosis + 2 tutup/10 liter air ).

PENGAIRAN
Pada fase awal pertumbuhan benih hingga tanaman muda, penyiraman dilakukan rutin tiap hari. Pengairan berikutnya tergantung musim.

PENGELOLAAN HAMA DAN PENYAKIT
a. Lalat kacang (Ophiomya phaseoli Tryon)
Gejala: terdapat bintik-bintik putih sekitar tulang daun, pertumbuhan tanaman yang terserang terhambat dan daun berwarna kekuningan, pangkal batang terjadi perakaran sekunder dan membengkak. Pengendalian: dengan cara pergiliran tanaman yang bukan dari famili kacang-kacangan dan penyemprotan dengan PESTONA.

b. Kutu daun (Aphis cracivora Koch)
Gejala: pertumbuhan terlambat karena hama mengisap cairan sel tanaman dan penurunan hasil panen. Kutu bergerombol di pucuk tanaman dan berperan sebagai vektor virus. Pengendalian: dengan rotasi tanaman dengan tanaman bukan famili kacang-kacangan dan penyemprotan Natural BVR

c. Ulat grayak (Spodoptera litura F.)
Gejala: daun berlubang dengan ukuran tidak pasti, serangan berat di musim kemarau, juga menyerang polong. Pengendalian: dengan kultur teknis, rotasi tanaman, penanaman serempak, Semprot Natural VITURA

d. Penggerek biji (Callosobruchus maculatus L)
Gejala: biji dirusak berlubang-lubang, hancur sampai 90%. Pengendalian: dengan membersihkan dan memusnahkan sisa-sisa tanaman tempat persembunyian hama. Benih kacang panjang diberi perlakuan minyak jagung 10 cc/kg biji.

e. Ulat bunga ( Maruca testualis)
Gejala: larva menyerang bunga yang sedang membuka, kemudian memakan polong. Pengendalian: dengan rotasi tanaman dan menjaga kebersihan kebun dari sisa-sisa tanaman. Disemprot dengan PESTONA

f. Penyakit Antraknose ( jamur Colletotricum lindemuthianum )
Gejala serangan dapat diamati pada bibit yang baru berkecamabah, semacam kanker berwarna coklat pada bagian batang dan keping biji. Pengendalian: dengan rotasi tanaman, perlakuan benih sebelum ditanam dengan Natural GLIO dan POC NASA dan membuang rumput-rumput dari sekitar tanaman.

g. Penyakit mozaik ( virus Cowpea Aphid Borne Virus/CAMV).
Gejala: pada daun-daun muda terdapat gambaran mosaik yang warnanya tidak beraturan. Penyakit ditularkan oleh vektor kutu daun. Pengendalian: gunakan benih sehat dan bebas virus, semprot vector kutu daun dan tanaman yang terserang dicabut dan dibakar.

h. Penyakit sapu ( virus Cowpea Witches-broom Virus/Cowpea Stunt Virus.)
Gejala: pertumbuhan tanaman terhambat, ruas-ruas (buku-buku) batang sangat pendek, tunas ketiak memendek dan membentuk “sapu”. Penyakit ditularkan kutu daun. Pengendalian: sama dengan pengendalian penyakit mosaik.

i. Layu bakteri ( Pseudomonas solanacearum )
Gejala: tanaman mendadak layu dan serangan berat menyeabkan tanaman mati. Pengendalian: dengan rotasi tanaman, perbaikan drainase dan mencabut tanaman yang mati dan gunakan Natural GLIO pada awal tanam.

PANEN DAN PASCA PENEN
– Ciri-ciri polong siap dipanen adalah ukuran polong telah maksimal, mudah dipatahkan dan biji-bijinya di dalam polong tidak menonjol
– Waktu panen yang paling baik pada pagi/sore hari. Umur tanaman siap panen 3,5-4 bulan
– Cara panen pada tanaman kacang panjang tipe merambat dengan memotong tangkai buah dengan pisau tajam.
– Selepas panen, polong kacang panjang dikumpulkan di tempat penampungan, lalu disortasi
– Polong kacang panjang diikat dengan bobot maksimal 1 kg dan siap dipasarkan.

 

Teknis Budidaya Cengkih

I. PENDAHULUAN
Cengkeh merupakan salah satu komoditas pertanian yang tinggi nilai ekonominya. Baik sebagai rempah-rempah, bahan campuran rokok kretek atau bahan dalam pembuatan minyak atsiri, namun bila faktor penanaman dan pemeliharaan lainnya tidak diperhatikan maka produksi dan kualitasnya akan menjadi rendah.
PT. NATURAL NUSANTARA berusaha berperan dalam peningkatan produksi secara K-3 yaitu Kuantitas, Kualitas dan tetap menjaga Kelestarian lingkungan.

II. SYARAT PERTUMBUHAN
- Tanaman tumbuh optimal pada 300 – 600 dpal dengan suhu 22°-30°C, curah hujan yang dikehendaki 1500 4500 mm/tahun
– Tanah gembur dengan dalam solum minimum 2 m, tidak berpadas dengan pH optimal 5,5 – 6,5. Tanah jenis latosol, andosoldan podsolik merah baik untuk dijadikan perkebunan cengkih.

III. PEMBIBITAN
- Buat bedengan untuk naungan dengan lebar 1- 1,2 m dan panjang sesuai kebutuhan dengan arah membujur ke utara selatan. Kanan kiri bedengan dibuat parit sedalam 20 cm dan lebar 50 cm. Diatas bedengan dibuat naungan setinggi 1,8 m dibagian timur dan 1,2 m dibagian selatan, intensitas cahaya 75%.
– Benih dibenamkan pada media di polybag ukuran 15 cm x 20 cm (untuk bibit yang akan dipindahkan pada umur 1 tahun) atau ukuran 20 cm x 25 cm (untuk bibit yang akan dipindahkan pada umur 2 tahun) yang bagian bawahnya telah dilubangi 2,5 mm dengan jarak 2 x 2 cm. Media yang digunakan pasir halus, tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 2 : 1 : 1, dan berikan Natural GLIO per 20 25 kg pupuk kandang yang telah jadi dan diperam selama ± 2 minggu. Dan sebelum bibit ditanam siram tanah dengan POC NASA 5 ml/lt air atau 0,5 tutup per liter air. -Kemudian susun polybag pada persemaian yang telah disiapkan.
– Penyiraman dilakukan dua kali dalam sehari. Penyiangan dilakukan 2-3 kali dalam sebulan disesuaikan dengan pertumbuhan gulma. Intensitas naungan perlahan-lahan dikurangi secara bertahap hingga tinggal 40% saat bibit dipindahkan ke lapang.
– Pemupukan dengan NPK dilakukan dengan dosis 10 gr/pohon/tahun atau dengan Urea, SP-36 dan KCl dengan dosis masing-masing 3,5 gr/bibit/tahun . Pupuk tersebut diberikan tiap 3 bulan sekali sedangkan untuk yang didalam polibag diberikan sebanyak 1,5 bulan sekali.

Catatan : Akan lebih baik pembibitan diselingi/ditambah SUPERNASA interval 4 bulan sekali dengan dosis 1 botol untuk ± 400 bibit. 1 botol SUPERNASA diencerkan dalam 4 liter (4000 ml) air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 1 liter diberi 10 ml larutan induk tadi untuk penyiraman setiap bibit.

IV. PENGAJIRAN
Pengajiran dilakukan pada blok tanaman untuk memudahkan penanaman dengan jarak tanam 8 x 8 m dengan pola bujursangkar atau empatpersegi panjang.

V. PENANAMAN
Cangkul tanah yang telah diberi ajir dengan ukuran lubang tanam 75 x 75 x 75 cm. Lakukan penanaman pada awal musim hujan. Berikanlah pupuk kandang 25 – 50 kg yang telah dicampur dengan 1 pak Natural GLIO dan 1,5 – 2 kg dolomit, campur hingga rata. Masukan 5-10 kg campuran tersebut per lubang tanam. Masukkan bibit dan gumpalan tanahnya kedalam lubang hingga batas leher akar. Beri peneduh buatan setingggi 30 cm dengan intensitas 50%. Siramkan POC NASA secara merata dengan dosis 2-3 ml/liter air per bibit atau semprot POC NASA dosis 2 tutup/ tangki. Hasil akan lebih bagus dengan menggunakan SUPERNASA dengan cara : 1 botol SUPERNASA diencerkan dalam 2 liter (2000 ml) dijadikan larutan induk. Kemudian dalam 1 liter air ditambahkan 10 ml larutan induk kemudian diberikan untuk setiap pohonnya.

VI. PEMELIHARAAN TANAMAN
Pengaturan peneduh dilakukan antara 4-6 bulan sekali.

VII. PEMUPUKAN

UMUR PUPUK MAKRO
Urea TSP KCl Dolomit
0,5 50 25 35 50
1 100 50 75 100
2 150 75 125 150
3 200 100 150 200
4 500 200 400 400
5 750 300 600 500
6 1000 400 800 750
7 1500 500 1000 1000
8 2200 600 1250 2000
9 2600 700 1500 2500
10 3000 800 1750 2900
11 3500 900 2000 3300
12 3500 900 2250 3800

Catatan :
– Bila diberikan dua periode pemberian pupuk pertama dilakukan awal musim hujan (September-Oktober) dan kedua pada akhir musim hujan (Maret-April).
– Siramkan SUPERNASA atau POWER NUTRITION dosis 1 sendok makan per 10 lt air per pohon setiap 3-6 bulan sekali
– Semprotkan POC NASA dosis 3 – 4 tutup + HORMONIK dosis 1-2 tutup pertangki setiap 1-2 bulan sekali hingga umur 5 tahun.

VIII. PENGENDALIAN HAMA dan PENYAKIT
A. Kutu daun ( Coccus viridis )
Bagian yang diserang : ranting muda, daun muda. Gejala : Pertumbuhan yang dihisapnya akan terhenti misal ranting mengering, daun dan bunga kering dan rontok. Pencegahan gunakan PENTANA + AERO 810 atau Natural BVR

B. Penggerek ranting/batang (Xyleborus sp )
Bagian yang diserang : ranting/batang. Gejala : Liang gerekan berupa lubang kecil, serangan hebat menyebabkan ranting / batang menjadi rapuh dan mudah patah.Pengendalian : Pangkas ranting/batang yang terserang, pencegahan gunakan PESTONA atau Natural BVR.

C. Kepik Helopeltis ( Helopeltis sp )
Bagian yang diserang : pucuk atau daun muda. Gejala : Biasanya pucuk akan mati dan daun muda berguguran.Pencegahan : Semprotkan Natural BVR atau PESTONA.

D. Penyakit mati bujang ( bakteri Xylemlimited bacterium ).
Bagian yang terserang : perakaran, ranting-ranting muda. Gejala : matinya ranting pada ujung-ujung tanaman.Gugurnya daun diikuti dengan matinya ranting secara bersamaan. Pengendalian : pengaturan drainase yang baik, penggemburan tanah, pencegahan kocorkan POC NASA + HORMONIK + NATURAL GLIO.

E. Penyakit busuk akar (Pytium rhizoctonia dan Phytopthora ).
Bagian yang diserang : perakaran. Gejala : pada pembibitan tanaman mati secara tiba-tiba, pada tanaman dewasa daun mengering mulai dari ranting bagian bawah. Pengendalian : bila serangan telah ganas maka tanaman yang terserang dibongkar dan dimusnahkan, lubang bekas tanaman berikan tepung belerang 200 gr secara merata, isolasi tanaman atau daerah yang terserang dengan membuat saluran isolasi, perbaiki drainase, gunakan Natural GLIO pada awal penanaman untuk pencegahan.
Catatan : Jika pengendalian hama dan penyakit dengan pestisida alami belum mengatasi, sebagai alternative terakhir bisa digunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata Pembasah AERO 810 dosis 0,5 tutup botol per tangki

IX. PANEN
Cengkih dapat mulai dipanen mulai umur tanaman 4,5 – 6,5 tahun, untuk memperoleh mutu yang baik bunga cengkih dipetik saat matang petik, yaitu saat kepala bunga kelihatan sudah penuh tetapi belum membuka. Matang petik setiap tanaman umumnya tidak serempak dan pemetikan dapat diulangi setiap 10-14 hari selama 3-4 bulan. Bunga cengkih dipetik per tandan tepat diatas buku daun terakhir. Bunga yang telah dipetik lalu dimasukkan ke dalam keranjang/karung kecil dan dibawa ke tempat pengolahan.

X. PENANGANAN PASCA PANEN
– Sortasi buah. Lakukan pemisahan bunga dari tangkainya dan tempatkan pada tempat yang berbeda.
– Pemeraman. Pemeraman dilakukan selama 1 hari ini dilakukan untuk memperbaiki warna cengkih menjadi coklat mengkilat.
– Pengeringan. Pengeringan dapat dilakukan dengan mesin pengering yang menggunakan kayu bakar atau bahan bakar minyak.Dapat juga dikeringkan dengan cara alami yaitu pengeringan dengan matahari pada lantai beton agar kadar air menjadi 12-14%, dan dapat disimpan dan aman dari jamur.
– Sortasi. Pada tahap ini cengkih dipisahkan dari kotoran dengan cara ditampi. Kemudian cengkih yang sudah bersih dimasukan pada karung dan dijahit.

 



  • Mr WordPress: Hi, this is a comment.To delete a comment, just log in, and view the posts' comments, there you will have the option to edit or delete them.

Arsip

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.